Thursday, December 26, 2013

LAPORAN PENDAHULUAN (ISOLASI SOSIAL)



A.     Kasus (Masalah Utama)
Gangguan Interaksi sosial: Isolasi Sosial

B.     Pengertian.
Isolasi Sosial merupakan percobaan untuk menghindari interaksi dengan orang lain, menghindari hubungan dengan orang lain ( Rawlins,1993 ).

C.     Proses Terjadinya Masalah
1.      Penyebab :
a.       Perkembangan : Sentuhan, perhatian, kehangatan dari keluarga yang mengakibatkan individu menyendiri, kemampuan berhubungan dengan orang lain tidak adekuat yang berakhir dengan menarik diri.
b.      Komunikasi dalam keluarga : Klien sering mengalami kecemasan dalam berhubungan dengan anggota keluarga, sering menjadi kambing hitam, sikap keluarga tidak konsisten (kadang boleh, kadang tidak). Situasi ini membuat klien enggan berkomunikasi dengan orang lain.
c.       Sosial Budaya : Di kota besar, masing – masing individu sibuk memperjaungkan hidup sehingga tidak waktu bersosialisasi. Situasi ini mendukung perilaku menarik diri.

Pada mulanya klien merasa dirinya tidak berharga lagi sehingga merasa tidak aman dalam berhubungan dengan orang lain. Biasanya klien berasal dari lingkungan yang penuh permasalahan, ketegangan, kecemasan dimana tidak mungkin mengembangkan kehangatan emosional dalam hubungan yang positif dengan orang lain yang menimbulkan rasa aman.
Dunia merupakan alam yang tidak menyenangkan, sebagai usaha untuk melindungi diri, klien menjadi pasif dan kepribadiannya semakin kaku (rigid). Klien semakin tidak dapat melibatkan diri dalam situasi yang baru. Ia berusaha mendapatkan rasa aman tetapi hidup itu sendiri begitu menyakitkan dan menyulitkan sehingga rasa aman itu tidak tercapai. Hal ini menyebabkan ia mengembangkan rasionalisasi dan mengaburkan realitas daripada mencari penyebab kesulitan serta menyesuaikan diri dengan kenyataan.
Konflik antara kesuksesan dan perjuangan untuk meraih kesuksesan itu sendiri terus berjalan dan penarikan diri dari realitas diikuti penarikan diri dari keterlibatan secara emosional dengan lingkungannya yang menimbulkan kesulitan. Semakin klien menjauhi kenyataan semakin kesulitan yang timbul dalam mengembangkan hubungan dengan orang lain. Menarik diri juga disebabkan oleh perceraian, putus hubungan, peran keluarga yang tidak jelas, orang tua pecandu alkohol dan penganiayaan anak. Resiko menarik diri adalah terjadinya resiko perubahan sensori persepsi (halusinasi).
2.      Tanda – tanda menarik diri dilihat dari beberapa aspek :
a.       Aspek fisik :
Ø  Makan dan minum kurang
Ø  Tidur kurang atau terganggu
Ø  Penampilan diri kurang
Ø  Keberanian kurang
b.      Aspek emosi :
Ø  Bicara tidak jelas, merengek, menangis seperti anak kecil
Ø  Merasa malu, bersalah
Ø  Mudah panik dan tiba-tiba marah
c.       Aspek sosial
Ø  Duduk menyendiri
Ø  Selalu tunduk
Ø  Tampak melamun
Ø  Tidak peduli lingkungan
Ø  Menghindar dari orang lain
Ø  Tergantung dari orang lain
d.      Aspek intelektual
Ø  Putus asa
Ø  Merasa sendiri, tidak ada sokongan
Ø  Kurang percaya diri

D.    Pohon masalah
                                          Resiko perubahan persepsi sensori: halusinasi .....
Isolasi sosial: menarik diri

 






                                           Gangguan konsep diri: harga diri rendah

E.     Masalah keperawatan dan data yang perlu dikaji
1.      Masalah Keperawatan.
a.       Resiko perubahanm persepsi sensori: halusinasi……..
b.      Isolasi sosial : menarik diri
c.       Gangguan konseps diri: harga diri rendah
2.      Data yang perlu di kaji.
a.       Resiko perubahanm persepsi sensori: halusinasi……..
1)          Data Subjektif
a)      Klien mengatakan mendengar bunyi yang tidak berhubungan dengan stimulus nyata
b)      Klien mengatakan melihat gambaran tanpa ada stimulus yang nyata
c)      Klien mengatakan mencium bau tanpa stimulus
d)      Klien merasa makan sesuatu
e)      Klien merasa ada sesuatu pada kulitnya
f)        Klien takut pada suara/bunyi/gambar yang dilihat dan didengar
g)      Klien ingin memukul/melempar barang-barang
2)      Data Objektif
a)      Klien berbicar dan tertawa sendiri
b)      Klien bersikap seperti mendengar/melihat sesuatu
c)      Klien berhenti bicara ditengah kalimat untuk mendengarkan sesuatu
d)      Disorientasi

b.      Isolasi sosial : menarik diri
1)      Data obyektif:  
Apatis, ekpresi sedih, afek tumpul, menyendiri, berdiam diri dikamar, banyak diam, kontak mata kurang (menunduk), menolak berhubungan dengan orang lain, perawatan diri kurang, posisi menekur.
2)      Data subyektif: 
Sukar didapat jika klien menolak komunikasi, kadang hanya dijawab dengan singkat, ya atau tidak.

c.       Gangguan konseps diri: harga diri rendah
1)      Data obyektif:  
Klien tampak lebih suka sendiri, bingung bila disuruh memilih alternatif tindakan, ingin mencederai diri.
2)      Data subyektif: 
Klien mengatakan : saya tidak bisa, tidak mampu, bodoh / tidak tahu apa – apa, mengkritik diri sendiri, mengungkapkan perasaan malu terhadap diri.

F.      Diagnosa Keperawatan
1.      Resiko perubahan persepsi sensori: halusinasi …. berhubungan dengan menarik diri.
2.      Isolasi sosial: menarik diri berhubungan dengan harga diri rendah.

G.    RENCANA TINDAKAN.
Diagnosa Keperawatan 1: Resiko perubahan persepsi sensori: halusinasi……. Berhubungan dengan menarik diri
1.      Tujuan umum:
Tidak terjadi perubahan persepsi sensori: halusinasi ….
2.      Tujuan khusus:
a.       Klien dapat membina hubungan saling percaya
Tindakan:
ٱ      Bina hubungan saling percaya: salam terapeutik, memperkenalkan diri, jelaskan tuiuan interaksi, ciptakan lingkungan yang tenang, buat kesepakatan / janji dengan jelas tentang topik, tempat, waktu.
ٱ      Beri perhatian dan penghargaan: temani kilen walau tidak menjawab
ٱ      Dengarkan dengan empati : beri kesempatan bicara, jangan terburu‑buru, tunjukkan bahwa perawat mengikuti pembicaraan klien.

b.      Klien dapat menyebut penyebab menarik diri
Tindakan:
ٱ      Bicarakan penyebab tidak mau bergaul dengan orang lain.
ٱ      Diskusikan akibat yang dirasakan dari menarik diri.

c.       Klien dapat menyebutkan keuntungan hubungan dengan orang lain
Tindakan:
ٱ      Diskusikan keuntungan bergaul dengan orang lain.
ٱ      Bantu mengidentifikasikan kernampuan yang dimiliki untuk bergaul.

d.      Klien dapat melakukan hubungan sosial secara bertahap: klien‑perawat, klien‑perawat‑klien lain, perawat-klien‑kelompok, klien‑keluarga.
Tindakan:
ٱ      Lakukan interaksi sering dan singkat dengan klien jika mungkin perawat yang sama.
ٱ      Motivasi temani klien untuk berkenalan dengan orang lain
ٱ      Tingkatkan interaksi secara bertahap
ٱ      Libatkan dalam terapi aktivitas kelompok sosialisasi
ٱ      Bantu melaksanakan aktivitas setiap hari dengan interaksi
ٱ      Fasilitasi hubungan kilen dengan keluarga secara terapeutik

e.       Klien dapat mengungkapkan perasaan setelah berhubungan dengan orang lain.
 Tindakan:
ٱ      Diskusi dengan klien setiap selesai interaksi / kegiatan
ٱ      Beri pujian atas keberhasilan klien

f.        Klien mendapat dukungan keluarga
Tindakan:
ٱ      Beri pendidikan kesehatan tentang cara merawat klien melalui pertemuan keluarga
ٱ      Beri reinforcement positif atas keterlibatan keluarga.


Diagnosa 2: Isolasi sosial: menarik diri berhubungan dengan harga diri rendah

1.      Tujuan umum :
Klien dapat berhubungan dengan orang lain secara optimal
2.      Tujuan khusus :
a.       Klien dapat membina hubungan saling percaya
Tindakan :
1)      Bina hubungan saling percaya dengan mengungkapkan prinsip komunikasi terpeutik
2)      Klien dapat mengidentifikasi kemampuan dan aspek positif yang dimiliki
Tindakan :
ٱ      Diskusikan kemampuan dan aspek positif yang dimilikiklien.
ٱ      Setiap bertemu klien hindarkan dari penilaian negatif.
ٱ       Utamakan memberi pujian yang realistik.

b.      Klien dapat menilai kemampun yang dimiliki
Tindakan :
ٱ      Diskusikan dengan klien kemampuan yang masih dapat digunakan selama sakit
ٱ      Diskusikan kemampuan yang dapat dilanjutkn penggunaannya.

c.       Klien dapat (menetapkan) merencanakan kegiatan sesuai dengan kemampun yang dimiliki
Tindakan :
ٱ      Rencanakan bersama klien aktifitas yang dapat dilakukan setiap hari sesuai kemampuan
ٱ      Tingkatkan kegiatan sesuai toleransi kondisi klien
ٱ      Beri contoh cara pelaksanaan kegiatan yang boleh klien lakukan

d.      Klien dapat melakukan kegiatan sesuai dengan kondisi sakit dan kemampuannya
Tindakan :
ٱ      Beri kesempatan pada klien untuk mencoba kegiatan yang telah direncanakan
ٱ      Beri pujian atas keberhasilan klien
ٱ      Diskusikan kemungkinan pelaksanan di rumah

e.       Klien dapat memanfaatkan sistem pendukung yang ada
Tindakan :
ٱ      Beri pendidikan kesehatan pada keluarga tentang cara merawat  klien dengan harga diri rendah
ٱ      Bantu keluarga memberikan dukungan selama klien dirawat
ٱ      Bantu keluarga menyiapkan lingkungan di rumah.



DAFTAR PUSTAKA

Azis R, dkk. Pedoman asuhan keperawatan jiwa. Semarang : RSJD Dr. Amino Gondoutomo. 2003

Boyd MA, Hihart MA. Psychiatric nursing : contemporary practice. Philadelphia : Lipincott-Raven Publisher. 1998

Keliat BA. Proses kesehatan jiwa. Edisi 1. Jakarta : EGC. 1999

Stuart GW, Sundeen SJ. Buku saku keperawatan jiwa. Edisi 3. Jakarta : EGC. 1998

Stuart, G.W and Sundeen. Principle and practice of psychiatric nursing. 5thed.
St Louis Mosby Year Book.1995

Stuart. G.W and Laraia. Principle and practice of psychiatric nursing.7thed. St Louis Mosby Year Book. 2001

Townsed, Mary C. Buku Saku Diagnosa Keperawatan pada Keperawatan Psikiatri:pedoman untuk pembuatan rencana keperawatan. Edisi ketiga. Alih Bahasa: Novi Helera C.D. Jakarta. EGC. Jakarta1998.

Tim Direktorat Keswa. Standar asuhan keperawatan kesehatan jiwa. Edisi 1. Bandung : RSJP Bandung. 2000



















LAPORAN PENDAHULUAN (WAHAM)



 A.  Definisi
Waham adalah keyakinan terhadap sesuatu hal yang secara berlebihan dan biasanya diuacapkan secara berulang tetapi hal tersebut tidak sesuai dengan kenyataan (Haber,1982)

B. Proses Pikir
  Arus Pikir
a)      Koheren       : Kalimat / pembicaran dapat difahami dengan baik.
b)      Inkoheren     : Kalimat tidak terbentuk, pembicaraan sulit difahami.
c)      Sirkumstansial          :Pembicaraan yangberbelit-belit tapi sampai pada tujuan pembicaraan.
d)      Tangensial    : Pembicaraan yang berbelit-belit tapi tidak sampai pada tujuan pembicaraan.
e)      Asosiasi longgar       : Pembicaraan tidak ada hubungan antara kalimat yang satu dengan kalimat yang lainnya, dan klien tidak menyadarinya.
f)       Flight of ideas           : Pembicaraan yang melompat dari satu topik ke topik lainnya, masih ada hubungan yang tidak logis dan tidak sampai pada tujuan.
g)      Blocking       : Pembicaraan terhenti tiba-tiba tanpa gangguan eksternal kemudian dilanjutkan kembali.
h)      Perseverasi   : Berulang-ulang menceritakan suatu ide, tema secara berlebihan.
i)        Logorea       : Pembicaraan cepat tidak terhenti.
j)       Neologisme  : Membentuk kata-kata baru yang tidak difahami oleh umum.
k)      Irelefansi      : Ucapan yang tidak ada hubungannya dengan pertanyaan atau dengan hal yang sedang dibicarakan.
l)        Assosiasi bunyi         : Mengucapkan perkataan yang mempunyai persamaan bunyi
m)    Main kata-kata         : Membuat sajak secara tidak wajar.
n)      Afasi                        : Bisa sensorik (tidakmengerti pembicaraan orang lain), motorik (tidak bisa atau sukar berbicara)  
Isi Pikir
1)      Obsesif        : Pikiran yang selalu muncul meski klien berusaha menghilangkannya
2)      Phobia         : Ketakutan yang pathologis / tidak logis terhadap obyek / situasi tertentu
3)      Ekstasi         : Kegembiraan yang luar biasa
4)      Fantasi         : Isi pikiran tentang suatu keadaan atau kejadian yang diinginkan
5)      Bunuh diri    : Ide bunuh diri
6)      Ideas of reference : Pembicaraan orang lain, benda-benda atau suatu kejadian yang dihubungkan dengan dirinya.
7)      Pikiran magis           :  Keyakinan klien tentang kemampuannya melakukan hal-hal yang mustahil / diluar kemampuannya
8)      Alienasi        : Perasaan bahwa dirinya sudah menjadi lain, berbeda atau asing
9)      Rendah diri : Merendahkan atau menghina diri         sendiri, menyalahkan diri sendiri tentang suatu hal yang pernah atu tidak pernah dilakukan
10)  Pesimisme    : Mempunyai pandangan yang suram mengenai banyak hal dalam hidupnya
11)  Waham       
·        Agama         : Keyakinan terhadap suatu agama secara berlebihan dan diucapkan secara berulang tetapi tidak sesuai dengan kenyataan
·        Somatik       : Klien mempunyai keyakinan tentang tubuhnya dan dikatakan secara berulang yang tidak sesuai dengan kenyataan
·        Kebesaran   : Klien mempunyai keyakinan yang berlebihan terhadap kemampuannya yang disampaikan secara berulang yang tidak sesuai dengan kenyataan
·        Curiga         : klien mempunyai keyakinan bahwa ada seseorang atu kelompok yang berusaha merugikan atau mencederai dirinya yang disampaikan secara berulang dan tidak sesuai dengan kenyataan
·        Nihilistik      : Klien yakin bahwa dirinya sudah tidak ada didunia atau meninggal yang dinyatakan secara berulang yang tidak sesuai dengan kenyataan
·        Kejaran       : Yakin bahwa ada orang / kelompok yang mengganggu, dimata-matai atau kejelekan sedang dibicarakan orang banyak
·        Dosa           : Keyakinan bahwa ia telah berbuat dosa atau kesalahan yang besar yang tidak bisa diampuni
   Waham bizar
o    Sisip pikir     : klien yakin  ada pikiran orang lain yang disisipkan di dalam pikiran yang disampaikan secara berulang dan tidak sesuai dengan kenyataan
o    Siar pikir      : klien yakin bahwa orang lain mengetahui apa yang dia pikirkan walaupun dia tidak menyatakan kepada orang tersebut yang dinyatakan secara berulang dan tidak sesuai dengan kenyataan
o    Kontrolpikir             : klien yakin pikirannya dikontrololeh kekuatan dari luar.
Bentuk pikir
a)      Realistik       : Cara berfikir sesuai kenyataan atau realita yang ada
b)      Non realistic            : Cara berfikir yang tidak sesuai dengan kenyataan
c)      Autistik        : Cara berfikir berdasarkan lamunan / fantasi / halusinasi  / wahamnya sendiri
d)      Dereistik      : Cara berfikir dimana proses mentalnya tidak ada sangkut pautnya dengan kenyataan, logika atau pengalaman.

C. Proses Terjadinya Masalah
Waham dapat terjadi karena kecemasan yang berlebihan yang tidak sesuai dengan kenyataan. Klien akan mengalami ketidakmampuan mengenal realita, menarik diri karena curiga orang lain akan menyakiti / menciderai.
Penyebab waham yaitu :
  1. Waham dapat terjadi karena kecemasan yang berlebihan, klien akan mengalami ketidakmampuan mengenal realita dan keyakinan akan kecemasannya diucapkan berulang-ulang.
  2. Bila wahamnya terlalu lama maka akan mempengaruhi rasa percaya klien sehingga klien akan menarik diri karena rasa cemas yang berlebihan. Kecemasan akan meningkatkan waham klien sehingga klien akan menemui suatu yang tidak dapat mereka temui didunianya.

D. Pohon Masalah

   Kerusakan interaksi sosial


Gangguan komunikasi verbal (logorhoe)


Defisit perawatan             Gangguan proses pikir (waham curiga)                    resiko menciderai
diri                                                                                                                 diri dan orang lain
Kecemasan yang berlebihan

Harga diri rendah kronis


E. Data yang perlu dikaji
a.       Riwayat penyakit pasien dan keluarga
b.      Aktivitas motorik
c.       Proses pikir
d.      Tingkat perkembangan memori
e.       Daya tilik diri ( insight )
f.        Hubungan sosial / keluarga
g.       Mekanisme koping

F. Masalah Keperawatan
1. Resiko menciderai diri sendiri dan orang lain berhubungan dengan waham curiga.
2. Gangguan komunoikasi verbal berhubungan dengan waham curiga.
3. Defisit perawatan diri berhubungan dengan waham curiga.
4. Kerusakan interaksi social berhubungan ddengan gangguan komunikasi verbal.
5. Gangguan proses pikir (waham curiga) berhubungan dengan kecemasan yang berlebihan.
6. Kecemasan berhubungan dengan harga diri rendah.

G.  Rencana Tindakan Keperawatan
a.       Kaji tingkat pengetahuan pasien
b.      Kaji hubungan sosial / kedekatan hubunga pasien dengan keluarganya dan lingkungan sosialnya
c.       Kaji riwayat penyakit pasien dan keluarga
d.      Kaji aktivitas motorik pasien
e.       Kaji persepsi pasien tentang dirinya sendiri


Contoh Proposal Kegiatan

PROPOSAL KEGIATAN PENYULUHAN MENCUCI TANGAN YANG BENAR   PROGRAM STUDI PROFESI...