Thursday, December 26, 2013

LAPORAN PENDAHULUAN (RESIKO MENCEDERAI DIRI SENDIRI,ORANG LAIN DAN LINGKUNGAN)



A.       Pengertian
     Amuk merupakan respon kemarahan yg paling maladaptif yg ditandai dengan perasaan marah dan bermusuhan yg kuat disertai hilangnya kontrol,dimana individu dpt merusak diri sendiri, orang lain maupun lingkungan (Keliat,1991).

B.       Faktor-faktor yang mempengaruhi amuk
     Tingkah laku amuk dapat dipengaruhi oleh berbagai macam faktor.Dalam beberapa teori,faktor ini dibagi 3 pandangan yaitu :
1.Model Teori Importation :
   Teori ini mencerminkan kedudukan klien dalam membawa atau mengadopsi nilai-nilai tertentu,sikap,pola tingkah laku kondusif terhadap amuk kedalam situasi pengobatan dan perawatan (Armstrong,1978 dalam wilson,1988).
   Faktor-faktor penyebab/mempengaruhi tingkah laku amuk adalah sebagai berikut :
a.    Faktor sosial dan kultural
      Staus emosi yg rendah,adanya riwayat penganiayaaan pd masa anak-     anak,pengalaman hidup dari sub kultur yg mengatasi konflik dng kekerasan,riwayat perilaku kekerasan.
b.    Penyakit gangguan mental seperti schizofrenia,gangguan kepribadian,gejala/ sindroma psikotik organik.
c.    Mental retardasi
d.    Akibat menderita penyakit yg berat atau terminal
e.    Demografi:Usia dan jenis kelamin, lelaki muda cenderung meningkat tingkah laku amuk.
f.      Seseorang yg putus asa dan tidak berdaya.
2.Model Situasionism
   Amuk adalah respon terhadap keunikan,kekuatan dan lingkungan ruamh sakit yg terbatas yg membuat klien merasa tak berharga dan tdk diperlakukan secara manusiawi.Model menggambarkan bagaimana  lingkungan dpt mendukung terjadinya kondisi amuk seperti : ruang & kondisi,kesibukan,penempatan klien diunit tersebut,penggunaan waktu,design arsitektur ruangan,pola staf,tingkat kegiatan  dan komposisi jumlah klien.
3.Model Interaksi
   Model ini menguraikan bagaimana proses interaksi yg terjadi antara klien dan perawat dpt memicu atau menyebabkan terjadinya tingkah laku amuk,Model ini memfokuskan pd 3 elemen tjdnya cetusan amuk yaitu : Provokasi,Expectasi (harapan) dan Konflik.

C.       Proses Terjadinya Amuk
     Amuk adalah respon marah terhadap adanya stres,rasa cemas,harga diri rendah,rasa bersalah,putus asa dan ketidak berdayaan.respon ini dpt diekspresikan secara internal maupun eksternal. Secara internal dpt berperilaku yg tdk asertif & merusak diri,sedangkan secara eksternal dpt berupa perilaku destruktif agresif. Adapun respon marah diungkapkan melalui 3 cara Yaitu : Secara verbal,Menekan dan menantang.

Bagan 1. Konsep Marah (Beck,Rawlins,Williams,1986,hal 447 dikutif oleh Keliat, 1991).

Ancaman atau kebutuhan
        ↓
    stress
        ↓
   Cemas
        ↓
   Marah
        ↓
           
Merasa kuat                               Mengungkapkan scr verbal               Merasa tdk adekuat                                ↓                                                      ↓                                                  ↓
Menantang                                 Menjaga keutuhan org lain                        Menantang
            ↓                                                      ↓                                                  ↓
Masalah tak selesai                                    Lega                                     Mengingkari marah
            ↓                                                      ↓                                                  ↓
Marah berkepanjangan     Ketegangan menurun                    Marah tdk terungkap
 


      Rasa marah teratasi

Muncul rasa bermusuhan
       ↓
Rasa bermusuhan menahun


Marah pada diri sendiri                                  Marah pd org  lain/lingkungan


Depresi psikomatik                                                                       Agresif mengamuk


D.      Pengkajian
1.         Identitas klien
2.         Alasan masuk biasanya berperilaku aneh berupa marah-marah tanpa sebab, menya-kiti diri sendiri dan org lain serta merusak lingkungan.
3.         Faktor predisposisi
·      Riwayat kelahiran dan tumbuh kembang
·      Riwayat pendidikan
·      Riwayat pekerjaan
·      Penggunaan waktu luang
·      Hubungan antar manusia
·      Tindakan anti sosial
·      Penyakit yg pernah diderita
·      Riwayat gangguan jiwa dimasa lalu
·      Pengobatan sebelumnya
·      Kekerasan dl keluarga
·      Trauma krn aniaya fisik/tindakan kriminal
4.         Apakah ada anggota keluarga yg mengalami gangguan jiwa
5.         Apakah ada pengalaman masa lalu yg tdk menyenangkan
6.         Bagaimana keadaan fisik klien scr umum (S,N,Tensi,RR,TB,BB Serta keluhan fisik lainnya).
7.         Bagaimana Kondisi Psikosoial klien : Genogram keluarga,Konsep diri klien,Hubungan sosial klien,spiritual klien.
8.         Bagaimana status mental klien: Penampilan,pembicaraan,aktivitas motorik,alam perasaan, afek,interaksi selama wawancara,persepsi klien,proses pikir,isi pikir, tingkat kesadaran, memori,Tingkat konsentrasi dan berhitung,kemampuan penilaian daya tilik diri.
9.         Kemampuan klien memenuhi kebutuhan
10.     Kemampuan klien dalam kegiatan kehidupan sehari-hari
11.     Kebersihan diri klien
12.     Nutrisi klien
13.     Tidur/istirahat klien
14.     Apakah klien memiliki sistem pendukung
15.     Apakah klien menikmati saat bekerja,yg menghsilkan atau hobbi
16.     Mekanisme koping adaptif atau tdk
17.     Apakah klien memiliki masalah psikososial atau lingkungan
18.     Bagaimana pengetahuan klien & klg ttg penyakit jiwa.

E.       Diagnosa Keperawatan
1.         Kekerasan resiko tinggi b.d adanya gangguan proses pikir
2.         Gangguan sosialisasi b.d hambatan komunikasi verbal
3.         Resiko Tinggi melukai orang lain b.d Ketidak mampuan mengontrol diri
4.         Koping keluarga inefektif b.d kurangnya kemampuan merawat amuk.

F.    Rencana Keperawatan
1.Kekerasan resiko tinggi b.d adanya gangguan proses pikir
   Tujuan Jangka Pendek :
       Klien mempertahankan agitasi pada tingkat yg dpt dikendalikan shg tdk menjadi kekerasan pd waktu lain.
       Tujuan Jangka Panjang :
       Klien tdk membahayakan diri sendiri,org lain dan lingkungan saat dirumah sakit maupun dirumah.
       Intervensi
       1).Bangun kepercayaan dengan klien
· Jangan mengemukakan alasan,berdebat atau menentang waham
· Yakinkan klien bahwa dia berada dlm keadaan aman & tdk berbahaya
· Jangan tinggalkan klien sendiri
· Sarankan klien u/ mengungkapkan perasaannya
· Tunjukan penerimaan thd kebutuhannya spt membicarakan pengalaman yg memicu timbulnya waham
· Tetap tenang
       Rasional
       U/ menghindari kecurigaan dan menumbuhkan kepercayaan/keterbukaan
   2).Kaji Tingkat ansietas klien
       Rasional
       Dengan mengenali prilaku ini perawat dpt mengatasi sebelum kekerasan    terjadi.
   3).Kaji sensori yg menimbulkan keinginan u/ melakukan kekerasan                                         
       Rasional
       U/ mengetahui ttg perubahan isi pikiran yg menimbulkan perubahan perilaku.
   4).Jangan menerima /mengkritik isi pikir klien yg salah
       Rasional
       Karena akan mengurangi kepercayaan & memunculkan konflik antar klien perawat yg dpt menghambat hubungan terapeutik
   5).Pertahankan tingkat rangsang yg rendah pd lingkungan klien
       Rasional
       Ansietas meningkat pd rangsangan yg tinggi.
   6).Singkirkan objek yg berpotensi membahayakan
       Rasional
       Dlm keadaan dissorientasi klien dpt menggunakan objek ini u/tindakan kekerasan
2.Kerusakan interaksi sosial b.d hambatan komunikasi verbal
   Tujuan jangka pendek
   Klien mengembangkan hubungan saling percaya dng staf,mengajak interaksi dng staf       
   Tujuan Jangka Panjang
· Klien dng sukarela mau melakukan aktivitas kelompok bersama klien yg lain & staf
· Klien dpt menahan diri u/ tdk melakukan perilaku egosentris yg menyinggung org lain & tdk mendukung suatu hubungan saat pulang
   Intervensi
   1).Luangkan waktu u/ berinteraksi dng klien
        Rasional
        U/ membentuk persepsi klien agar merasa berharga/dihargai
   2).Kembangkan hubungan terapeutik melalui kontak yg sering,singkat & menerima
       Rasional
       Kehadiran,penyampaian & penerimaan menolong meningkatkan harga diri/kepercayaan klien
   3).Ajak klien u/ melakukan aktivitas kelompok,berikan klien kesempatan  meng-ambil keputusan sendiri u/meninggalkan kelompok.
       Rasional
       U/memberikan rasa aman scr emosional kepada klien
   4).Berikan umpan balik langsung dari interaksi yg telah dilakukan klien dng org lain
       Rasional
       U/ mengubah perilaku klien kearah positif.
   5).Ajarkan tehnik asertif & cara berespon serta ketrampilan dlm melakukan hubung an dng org lain
       Rasional
       Pengetahuan ttg tehnik asertif dpt meningkatkan hubungan klien dng org lain

DAFTAR PUSTAKA



Carpenito, Lynda Juall, Buku Saku Diagnosa Keperawatan, Alih Bahasa : Yasmin Asih, Edisi 6,  EGC, Jakarta, 1998

Keliat, B. A., Proses Keperawatan Kesehatan Jiwa, EGC, Jakarta, 1999

Rawlins, R.P. & Patricia Evans Heacock, Clinical Manual of Psychiatric Nursing, 2 nd Edition, Mosby Year Book, St. Louis, 1993

Stuart, G.W. & Michele T. Laraia, Principles and Practice of Psychiatric Nursing, 6 th Edition, Mosby Company, St. Louis, 1998

Towsend, Mary C., Buku Saku Diagnosa Keperawatan Psikiatri Untuk Pembuatan Rencana Keperawatan,

Alih Bahasa : Novy Helena C.D., Edisi 3, EGC, Jakarta, 1998\

Stuart,  G. W. & Sandra J. Sundeen, Principles and Practice of Psychiatric Nursing, 1 st Edition, Mosby Company, St. Louis, 1995

LAPORAN PENDAHULUAN (ISOLASI SOSIAL)



A.     Kasus (Masalah Utama)
Gangguan Interaksi sosial: Isolasi Sosial

B.     Pengertian.
Isolasi Sosial merupakan percobaan untuk menghindari interaksi dengan orang lain, menghindari hubungan dengan orang lain ( Rawlins,1993 ).

C.     Proses Terjadinya Masalah
1.      Penyebab :
a.       Perkembangan : Sentuhan, perhatian, kehangatan dari keluarga yang mengakibatkan individu menyendiri, kemampuan berhubungan dengan orang lain tidak adekuat yang berakhir dengan menarik diri.
b.      Komunikasi dalam keluarga : Klien sering mengalami kecemasan dalam berhubungan dengan anggota keluarga, sering menjadi kambing hitam, sikap keluarga tidak konsisten (kadang boleh, kadang tidak). Situasi ini membuat klien enggan berkomunikasi dengan orang lain.
c.       Sosial Budaya : Di kota besar, masing – masing individu sibuk memperjaungkan hidup sehingga tidak waktu bersosialisasi. Situasi ini mendukung perilaku menarik diri.

Pada mulanya klien merasa dirinya tidak berharga lagi sehingga merasa tidak aman dalam berhubungan dengan orang lain. Biasanya klien berasal dari lingkungan yang penuh permasalahan, ketegangan, kecemasan dimana tidak mungkin mengembangkan kehangatan emosional dalam hubungan yang positif dengan orang lain yang menimbulkan rasa aman.
Dunia merupakan alam yang tidak menyenangkan, sebagai usaha untuk melindungi diri, klien menjadi pasif dan kepribadiannya semakin kaku (rigid). Klien semakin tidak dapat melibatkan diri dalam situasi yang baru. Ia berusaha mendapatkan rasa aman tetapi hidup itu sendiri begitu menyakitkan dan menyulitkan sehingga rasa aman itu tidak tercapai. Hal ini menyebabkan ia mengembangkan rasionalisasi dan mengaburkan realitas daripada mencari penyebab kesulitan serta menyesuaikan diri dengan kenyataan.
Konflik antara kesuksesan dan perjuangan untuk meraih kesuksesan itu sendiri terus berjalan dan penarikan diri dari realitas diikuti penarikan diri dari keterlibatan secara emosional dengan lingkungannya yang menimbulkan kesulitan. Semakin klien menjauhi kenyataan semakin kesulitan yang timbul dalam mengembangkan hubungan dengan orang lain. Menarik diri juga disebabkan oleh perceraian, putus hubungan, peran keluarga yang tidak jelas, orang tua pecandu alkohol dan penganiayaan anak. Resiko menarik diri adalah terjadinya resiko perubahan sensori persepsi (halusinasi).
2.      Tanda – tanda menarik diri dilihat dari beberapa aspek :
a.       Aspek fisik :
Ø  Makan dan minum kurang
Ø  Tidur kurang atau terganggu
Ø  Penampilan diri kurang
Ø  Keberanian kurang
b.      Aspek emosi :
Ø  Bicara tidak jelas, merengek, menangis seperti anak kecil
Ø  Merasa malu, bersalah
Ø  Mudah panik dan tiba-tiba marah
c.       Aspek sosial
Ø  Duduk menyendiri
Ø  Selalu tunduk
Ø  Tampak melamun
Ø  Tidak peduli lingkungan
Ø  Menghindar dari orang lain
Ø  Tergantung dari orang lain
d.      Aspek intelektual
Ø  Putus asa
Ø  Merasa sendiri, tidak ada sokongan
Ø  Kurang percaya diri

D.    Pohon masalah
                                          Resiko perubahan persepsi sensori: halusinasi .....
Isolasi sosial: menarik diri

 






                                           Gangguan konsep diri: harga diri rendah

E.     Masalah keperawatan dan data yang perlu dikaji
1.      Masalah Keperawatan.
a.       Resiko perubahanm persepsi sensori: halusinasi……..
b.      Isolasi sosial : menarik diri
c.       Gangguan konseps diri: harga diri rendah
2.      Data yang perlu di kaji.
a.       Resiko perubahanm persepsi sensori: halusinasi……..
1)          Data Subjektif
a)      Klien mengatakan mendengar bunyi yang tidak berhubungan dengan stimulus nyata
b)      Klien mengatakan melihat gambaran tanpa ada stimulus yang nyata
c)      Klien mengatakan mencium bau tanpa stimulus
d)      Klien merasa makan sesuatu
e)      Klien merasa ada sesuatu pada kulitnya
f)        Klien takut pada suara/bunyi/gambar yang dilihat dan didengar
g)      Klien ingin memukul/melempar barang-barang
2)      Data Objektif
a)      Klien berbicar dan tertawa sendiri
b)      Klien bersikap seperti mendengar/melihat sesuatu
c)      Klien berhenti bicara ditengah kalimat untuk mendengarkan sesuatu
d)      Disorientasi

b.      Isolasi sosial : menarik diri
1)      Data obyektif:  
Apatis, ekpresi sedih, afek tumpul, menyendiri, berdiam diri dikamar, banyak diam, kontak mata kurang (menunduk), menolak berhubungan dengan orang lain, perawatan diri kurang, posisi menekur.
2)      Data subyektif: 
Sukar didapat jika klien menolak komunikasi, kadang hanya dijawab dengan singkat, ya atau tidak.

c.       Gangguan konseps diri: harga diri rendah
1)      Data obyektif:  
Klien tampak lebih suka sendiri, bingung bila disuruh memilih alternatif tindakan, ingin mencederai diri.
2)      Data subyektif: 
Klien mengatakan : saya tidak bisa, tidak mampu, bodoh / tidak tahu apa – apa, mengkritik diri sendiri, mengungkapkan perasaan malu terhadap diri.

F.      Diagnosa Keperawatan
1.      Resiko perubahan persepsi sensori: halusinasi …. berhubungan dengan menarik diri.
2.      Isolasi sosial: menarik diri berhubungan dengan harga diri rendah.

G.    RENCANA TINDAKAN.
Diagnosa Keperawatan 1: Resiko perubahan persepsi sensori: halusinasi……. Berhubungan dengan menarik diri
1.      Tujuan umum:
Tidak terjadi perubahan persepsi sensori: halusinasi ….
2.      Tujuan khusus:
a.       Klien dapat membina hubungan saling percaya
Tindakan:
ٱ      Bina hubungan saling percaya: salam terapeutik, memperkenalkan diri, jelaskan tuiuan interaksi, ciptakan lingkungan yang tenang, buat kesepakatan / janji dengan jelas tentang topik, tempat, waktu.
ٱ      Beri perhatian dan penghargaan: temani kilen walau tidak menjawab
ٱ      Dengarkan dengan empati : beri kesempatan bicara, jangan terburu‑buru, tunjukkan bahwa perawat mengikuti pembicaraan klien.

b.      Klien dapat menyebut penyebab menarik diri
Tindakan:
ٱ      Bicarakan penyebab tidak mau bergaul dengan orang lain.
ٱ      Diskusikan akibat yang dirasakan dari menarik diri.

c.       Klien dapat menyebutkan keuntungan hubungan dengan orang lain
Tindakan:
ٱ      Diskusikan keuntungan bergaul dengan orang lain.
ٱ      Bantu mengidentifikasikan kernampuan yang dimiliki untuk bergaul.

d.      Klien dapat melakukan hubungan sosial secara bertahap: klien‑perawat, klien‑perawat‑klien lain, perawat-klien‑kelompok, klien‑keluarga.
Tindakan:
ٱ      Lakukan interaksi sering dan singkat dengan klien jika mungkin perawat yang sama.
ٱ      Motivasi temani klien untuk berkenalan dengan orang lain
ٱ      Tingkatkan interaksi secara bertahap
ٱ      Libatkan dalam terapi aktivitas kelompok sosialisasi
ٱ      Bantu melaksanakan aktivitas setiap hari dengan interaksi
ٱ      Fasilitasi hubungan kilen dengan keluarga secara terapeutik

e.       Klien dapat mengungkapkan perasaan setelah berhubungan dengan orang lain.
 Tindakan:
ٱ      Diskusi dengan klien setiap selesai interaksi / kegiatan
ٱ      Beri pujian atas keberhasilan klien

f.        Klien mendapat dukungan keluarga
Tindakan:
ٱ      Beri pendidikan kesehatan tentang cara merawat klien melalui pertemuan keluarga
ٱ      Beri reinforcement positif atas keterlibatan keluarga.


Diagnosa 2: Isolasi sosial: menarik diri berhubungan dengan harga diri rendah

1.      Tujuan umum :
Klien dapat berhubungan dengan orang lain secara optimal
2.      Tujuan khusus :
a.       Klien dapat membina hubungan saling percaya
Tindakan :
1)      Bina hubungan saling percaya dengan mengungkapkan prinsip komunikasi terpeutik
2)      Klien dapat mengidentifikasi kemampuan dan aspek positif yang dimiliki
Tindakan :
ٱ      Diskusikan kemampuan dan aspek positif yang dimilikiklien.
ٱ      Setiap bertemu klien hindarkan dari penilaian negatif.
ٱ       Utamakan memberi pujian yang realistik.

b.      Klien dapat menilai kemampun yang dimiliki
Tindakan :
ٱ      Diskusikan dengan klien kemampuan yang masih dapat digunakan selama sakit
ٱ      Diskusikan kemampuan yang dapat dilanjutkn penggunaannya.

c.       Klien dapat (menetapkan) merencanakan kegiatan sesuai dengan kemampun yang dimiliki
Tindakan :
ٱ      Rencanakan bersama klien aktifitas yang dapat dilakukan setiap hari sesuai kemampuan
ٱ      Tingkatkan kegiatan sesuai toleransi kondisi klien
ٱ      Beri contoh cara pelaksanaan kegiatan yang boleh klien lakukan

d.      Klien dapat melakukan kegiatan sesuai dengan kondisi sakit dan kemampuannya
Tindakan :
ٱ      Beri kesempatan pada klien untuk mencoba kegiatan yang telah direncanakan
ٱ      Beri pujian atas keberhasilan klien
ٱ      Diskusikan kemungkinan pelaksanan di rumah

e.       Klien dapat memanfaatkan sistem pendukung yang ada
Tindakan :
ٱ      Beri pendidikan kesehatan pada keluarga tentang cara merawat  klien dengan harga diri rendah
ٱ      Bantu keluarga memberikan dukungan selama klien dirawat
ٱ      Bantu keluarga menyiapkan lingkungan di rumah.



DAFTAR PUSTAKA

Azis R, dkk. Pedoman asuhan keperawatan jiwa. Semarang : RSJD Dr. Amino Gondoutomo. 2003

Boyd MA, Hihart MA. Psychiatric nursing : contemporary practice. Philadelphia : Lipincott-Raven Publisher. 1998

Keliat BA. Proses kesehatan jiwa. Edisi 1. Jakarta : EGC. 1999

Stuart GW, Sundeen SJ. Buku saku keperawatan jiwa. Edisi 3. Jakarta : EGC. 1998

Stuart, G.W and Sundeen. Principle and practice of psychiatric nursing. 5thed.
St Louis Mosby Year Book.1995

Stuart. G.W and Laraia. Principle and practice of psychiatric nursing.7thed. St Louis Mosby Year Book. 2001

Townsed, Mary C. Buku Saku Diagnosa Keperawatan pada Keperawatan Psikiatri:pedoman untuk pembuatan rencana keperawatan. Edisi ketiga. Alih Bahasa: Novi Helera C.D. Jakarta. EGC. Jakarta1998.

Tim Direktorat Keswa. Standar asuhan keperawatan kesehatan jiwa. Edisi 1. Bandung : RSJP Bandung. 2000



















Contoh Proposal Kegiatan

PROPOSAL KEGIATAN PENYULUHAN MENCUCI TANGAN YANG BENAR   PROGRAM STUDI PROFESI...